Kamis, 10 September 2020

Selisih Rp 3 Juta, Ini Perbedaan Spesifikasi pada Xbox Series X dan Series S

Selisih Rp 3 Juta, Ini Perbedaan Spesifikasi pada Xbox Series X dan Series S

 


Tamselgame - Akhirnya Microsoft mengumumkan tanggal peluncuran dan harga konsol game terbarunya, Xbox Series X dan Series S.

Kedua konsol tersebut akan diluncurkan pada 10 November mendatang dengan harga 499 dolar AS (sekitar Rp 7,4 juta) untuk Xbox Series X dan 299 dolar AS (sekitar Rp 4,4 juta) untuk Xbox Series S. Keduanya bisa dipesan mulai 22 September 2020.

Selain harga, Microsoft juga mengumumkan spesifikasi kedua konsol game terbarunya. tentu Xbox Series X lebih unggul dari Xbox Series S karena Xbox Series X lebih mahal harganya.

"Perbedaan utama pada kedua konsol itu adalah dibagian GPU" Kata direktur manajemen program Xbox Microsoft, Jason Ronald, dikutip dari The Verge.

Perbedaan pada bagian hardware, Series X memiliki 12,5 teraflop (52 CU pada 1.825 GHz) sedangkan Series S memiliki 20 CU pada 1.565 GHz dengan kinerja 4 teraflop. Walaupun memiliki perbedaan yang cukup besar, Microsoft janjikan Series S tiga kali lebih kuat dibandingkan Xbox One.  

Perbedaan juga terletak di RAM, Xbox Series X dibekali dengan RAM 16 GB, SSD 1 TB, serta mendukung output hingga resolusi 4K (60 fps) dan framerate 120 fps. Sedangkan Series S dibekali dengan RAM 10 GB, SSD 512 GB, serta mendukung output hingga 1440p (60 fps) framerate 120 fps

Selain pada bagian hardware, Xbox Series X dan Series Y ini memiliki perbedaan disisi desain. Sebab, Series S tidak dibekali dengan slot/laci cakram yang sama seperti konsol game besutan Sony, PlayStation 5 (PS5) Digital Edition, konsol ini hanya bisa menjalankan game versi digital. Sedangkan Series X masih memiliki laci cakram Blu-ray fisik seperti PS5 versi reguler.



Jumat, 22 Januari 2016

Facebook (FB) Meluncurkan Sport Stadium Guna Obrolan Seputar Olahraga, Seru!

Facebook (FB) Meluncurkan Sport Stadium Guna Obrolan Seputar Olahraga, Seru!
Tamselgame - Media sosial terbesar yaitu Facebook yang kini baru saja mengumumkan fitur terbarunya dengan namaFacebook Sport Stadium, fitur tersebut merupakan tempat untuk membagikan informasi pada saat pertandingan olahraga dimulai.





Fitur Facebook Sport Stadium yang kini sangat membantu pengguna untuk memberikan komentar pada  permainan, atau hanya membaca komentar dari para jurnalis. Menggunakan fitur tersebut juga bisa melacak statisik, pergerakan play by play, serta nilai dan informasi lainnya. “Anda bisa mengikuti aksi pada saat petandingan terungkap secara live play by play, serta bila like, komentar ataupun membagikan permainan individu,” ungkap pihak Facebook.

“Adapun hal yang tidak mendukung dari fitur Facebook Sport Stadium tersebut yaitu pertandingan itu sendiri. Pihak Facebook hanya sebuah lisensi data pertandingan dari perusahaan Sportradar, bukan bekerjsama dengan koneksi utama olaharaga,”Ujar The Verge.

Dan sebaliknya, untuk orang Facebook serta Reed memberikan penjelasan kepada Recode, hubungan baru sudah menjadi pelengkap pengalaman televise.” Ini memberikan informasi soal permainan, namun ini juga sudah menyediakan anca dalam percakapan penting dan interaksi pada saat permainan,” ujarnya.

Perlu anda ketahui bahwa sebelum Facebook riliskan fitur terbaru ini, banyak orang yang menjadikan Twitter sebagai bahan diskusi untuk hal-hal kecil dari beragam acara olahraga. Tetapi, dari pengalaman yang diberikannya terlihat belum sempurna.




Selasa, 04 Agustus 2015

Review Dying Light

Dying Light - Maaf sahabat tamselgame saya sudah lama tidak mengepost thread, karena sibuknya keseharian. Saya akan membuat thread game zombie yang judulnya Dying Light game buatan Tech Land. Ya, jika kamu belum sadar, mereka adalah developer dari seri Dead Island. Jadi, apakah game buatan developer game zombie yang cukup terkenal ini akan memuaskan hasrat kamu untuk mendapatkan pengalaman bermain game zombie di tengah banyaknya game zombie yang ada sekarang? Saya bukan seseorang yang ahli dalam bidang zombie, tapi saya yakin satu hal: Dying Light cukup menyenangkan untuk dimainkan oleh siapapun.


Welcome To Harran


Dalam Dying Light, kamu akan bermain sebagai Kyle Crane, seorang agen rahasia yang ditugaskan untuk menyusup ke dalam kota Harran yang dikarantina karena sebuah virus yang membuat orang-orang di sana berubah menjadi zombie. Di kota tersebut kamu harus melakukan berbagai tugas yang diajukan oleh organisasi GRE sebagai atasanmu. Namun di tengah misi tersebut, kamu bertemu dengan sekelompok orang yang masih selamat dan cerita akan bergulir ke arah dilema apakah kamu akan tetap mengikuti misi utama yang diberikan organisasimu atau harus menyelamatkan para penghuni kota Harran yang masih hidup.
Dari segi cerita, saya cukup terkejut karena jarang sekali ada game zombie yang menyelipkan sedikit bumbu espionase dalam plot ceritanya. Hal ini membuat cerita tidak melulu berpusat pada tema zombie tradisional seperti bertahan hidup saja, tapi juga memberikan sedikit perspektif yang segar. Selain itu bahaya yang disajikan dalam game ini tidak terletak pada zombie saja, tapi juga para survivor lainnya yang berkelompok. Sayangnya cerita utama tersebut akan segera terlupakan begitu saja dikarenakan antagonis yang terkesan klise serta berbagai tumpukan hal yang mengalihkan perhatian dalam game ini.

Banyak Pengalih Perhatian


Apa yang menumpuk? Nah, karena game ini adalah sebuah game sandbox,sudah pasti side quest yang jumlahnya luar biasa banyak akan mengganggu progres misi utamamu. Kecuali kamu sedang melakukan speedrun, saya rasaside quest ini mau tidak mau harus kamu jalani. Ini disebabkan kalau kamu tidak menjalani side quest sama sekali kamu tidak akan bisa memperkuat kemampuan karaktermu.
Tapi, meskipun jumlahnya banyak, side quest dalam Dying Lightsesungguhnya cukup menarik dan menantang untuk dimainkan. Setiap side quest memiliki ceritanya masing-masing dan tidak terasa seperti side questmurahan yang mengharuskan kamu mengumpulkan item tertentu kemudian berakhir begitu saja. Cerita yang disediakan juga terasa berbeda dan berwarna-warni meskipun kadang NPC yang membawakan cerita side quest tersebut terkesan kurang realistis dari tingkah yang mereka tunjukkan.
Hal yang mengalihkan perhatianmu di dalam game ini tidak hanya side quest saja, tapi juga ada random event seperti survivor yang membutuhkan bantuan, paket yang dijatuhkan oleh pesawat, atau kotak yang dijaga oleh sekelompok orang yang bisa kamu rebut. Dengan demikian setiap kamu berlari di tengah kota Harran yang dikerumuni zombie, kamu tidak akan merasa cepat bosan karena adanya banyak hal dinamis terjadi dalam kota tersebut.

First Person Parkour


Parkour adalah salah satu tema sekaligus senjata utama dalam Dying Light dan saya rasa game ini berhasil membawa esensi parkour dengan interaktif sekaligus sangat mudah untuk diakses. Kamu bisa berkeliaran di kota Harran yang penuh bahaya mayat hidup dengan cara melompati, berlari, hingga bergelantungan menghindari para zombie yang ada secara cukup bebas. Hampir setiap tebing yang kamu rasa bisa dipijak, maka itu pasti bisa dipijak dan hampir setiap pagar yang kamu pikir bisa dilompati, itu pasti bisa dilompati. Kebebasan semu yang didapat dari mekanisme parkour dalam gameini adalah poin plus yang membuat Dying Light sangat seru untuk dimainkan bahkan ketika kamu bermain tanpa tujuan sama sekali.
Namun bukan berarti parkour di dalam game ini tidak akan menyebabkan sesuatu yang kurang menyenangkan sama sekali. Saya tadi bilang bahwa parkour adalah tema utama dalam game ini bukan? Ini artinya kamu harus terus menggunakan gerakan parkour untuk berkelana ke mana pun kamu mau pergi, tanpa ada sistem fast travel.Oke, kamu bisa menggunakan fast travel, namun kamu harus menamatkan terlebih dahulu cerita utama untuk bisa menggunakan fitur tersebut. Agak menyebalkan, terutama kalau kamu tipe gamer yang ingin membereskan sebuah game dalam sekali jalan.

First Person Action


Dying Light menyediakan gameplay first person action yang terasa menggugah ketika dimainkan. Setiap serangan senjata, baik itu senjata tajam maupun tumpul terasa kuat dan memberikan efek hentakan yang sangat memuaskan. Hal itu juga turut didukung oleh AI zombie dan manusia yang cukup menantang untuk diajak bertarung. Tentu bukan zombie biasa yang dimaksud di sini melainkan zombie viral yang jauh lebih berbahaya dari zombie biasa. Namun, patut disayangkan dari segi first person shooter, senjata api yang kamu gunakan terasa tidak responsif dan mekanismenya terasa tidak dipoles.
Jangan juga kamu meremehkan zombie biasa yang berkeliaran di kota tersebut. Dying Light adalah sebuah game yang sulit. Jika kamu lengah sedikit, maka zombie biasa pun siap memangsa kamu dengan mudah. Bicara soal tingkat kesulitan juga, Dying Light mungkin adalah salah satugame yang penuh dengan grinding. Kamu harus terus beraktivitas dengan intensitas yang sangat tinggi dalam game ini jika kamu ingin memiliki senjata yang kuat dan kemampuan karakter yang mumpuni untuk bisa tetap bertahan di Harran. Hal itu juga dipersulit dengan sistem penalti setiap kali kamu mati. Karena begitu kamu mati, kamu akan kehilangan sejumlah Survivor Points yang dibutuhkan untuk memperkuat karaktermu.
Senjata yang tersedia dalam Dying Light cukup menyenangkan untuk digunakan. Mulai dari balok kayu, palu, golok, kapak, hingga senajata api tersedia untuk memastikan kamu tetap hidup di Harran. Masing-masing senjata memiliki kelebihannya  sendiri dan terasa cukup berbeda antara satu dengan yang lain. Namun yang membuat semakin seru adalah kemampuanmu untuk membuat senjata jenis baru berdasarkan cetak biru yang kamu kumpulkan. Kamu bisa saja membuat sebuah palu yang begitu dipukul tidak hanya meremukkan kepala musuh tapi juga membakarnya atau kamu bisa membuat sebuah pedang mengeluarkan sengatan listrik yang bisa membuat musuhnya kejang-kejang. Jeleknya, semua senjata (kecuali senjata api) yang kamu gunakan memiliki daya tahan yang terbatas, sehingga jika senjata tersebut sudah kehabisan tingkat ketahanannya, maka senjata yang kamu gunakan mau tidak mau harus dibuang.

Waspadalah Pada Malam Yang Mematikan!


Sesuai judul game ini yaitu Dying Light, begitu cahaya di kota ini meredup, kamu harus bersiap-siap untuk menghadapi ganasnya malam hari. Pertama-tama kota yang semakin gelap akan membuat penglihatanmu terbatas sehingga kamu harus ekstra hati-hati untuk tidak menabrak zombie yang melintas. Kedua, malam hari adalah waktu kemunculan zombie-zombie tipe berbahaya yang harus kamu hindari. Tetapi bahaya ini juga tidak tanpa keuntungannya sendiri. Survival Point, Agility Point, dan Battle Point yang kamu terima akan jauh lebih besar sehingga kamu bisa memperkuat karaktermu dengan cepat di malam hari.
Segitu saja? Tentu tidak. Malam akan semakin seru berkat adanya fiturmultiplayer. Jika kamu sedang ‘beruntung’ saat sedang online, kamu akan secara otomatis masuk dalam sebuah pertarungan antara zombie dan manusia. Jika kamu adalah manusia, ketahuilah juga bahwa zombie yang tengah kamu lawan adalah pemain lainnya yang sedang memainkan mode Be The Zombie.

Jadilah Zombie


Kalau kamu sudah bosan bermain sebagai manusia, maka sekarang waktunya bermain sebagai zombie. Dalam mode Be The Zombie yang merupakan DLC, kamu bisa menjadi seorang Night Crawler yang merupakan zombie dengan kemampuan unik. Nantinya kamu akan diterjunkan ke tengah permainan orang lain dan dihadapkan dengan pertempuran asimetris. Sebagai Night Crawler, kamu bisa melompat lebih tinggi, berayun seperti Spider-Man hingga melakukan instant kill terhadap manusia yang kamu incar. Tapi kamu memiliki kelemahan yaitu sinar UV yang bisa ditembakkan menggunakan senter para manusia. Jadi, masing-masing pihak memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri yang harus dieksploitasi seefektif mungkin.
Saya rasa, di sinilah salah satu kelebihan Dying Light yang paling seru. Kejar-kejaran antara manusia dan zombie bisa terjadi dari kedua pihak. Jika pihak manusia lengah, maka zombie yang akan menghabisi manusia satu per satu, namun bila zombie tersebut lengah, maka ia akan dikeroyok oleh para manusia. Pokoknya, mode ini sangat saya sarankan untuk kamu jajal begitu kamu memutuskan untuk memainkan Dying Light.

Kualitas Visual Generasi Kini


Dying Light mungkin merupakan salah satu game yang saya rasa berhasil menunjukkan kualitas visual yang sangat baik. Mulai dari lingkungan kota yang sangat detail, jumlah zombie yang banyak dalam satu layar, hingga desain zombie yang menjijikan dan mengerikan membuat Dying Light terlihat seperti sebuah game yang benar-benar menggambarkan game zaman sekarang. Detail setiap senjata juga terlihat sangat meyakinkan apalagi untuk senjata buatan sendiri yang memperlihatkan kemampuan elemen dalam desain yang terlihat.
Performa game ini di console juga terasa baik. Saya mencoba Dying Light menggunakan PS4 dan saya tetap merasakan gerakan 30 fps yang cukup stabil secara keseluruhan permainan. Selain itu efek motion blur yang disajikan juga memberikan kesan sinematis yang keren untuk dilihat. Hanya saja, bagi sebagian orang, mungkin visual semacam ini akan membuat pusing terutama ketika aksi parkour yang cepat tengah terjadi.
Satu hal yang mengganggu lainnya adalah kualitas lip-sync yang tidak setara dengan detail lain yang disajikan dalam game ini. Untuk sebuah game dengan sudut pandang orang pertama, gerakan wajah adalah sesuatu yang paling memberikan dampak besar dalam pengalaman permainan. Jika gerakan bibir dan suara tidak sama, maka justru akan membawa kesan negatif pada game yang memiliki kualitas visual yang luar biasa ini.

Kesimpulan

Dying Light adalah sebuah game first-person action yang cukup seru berkat fitur parkour yang akan kamu gunakan secara konstan serta dilengkapi mode multiplayer asimetris yang menantang untuk dimainkan. Meskipun cukup terasa penuh grinding dan memiliki side quest yang seringkali mengalihkan perhatian, game ini tetap terasa menyenangkan untuk dicoba berkat tantangan yang dimilikinya terutama ketika malam telah tiba. Mungkin kamu akan merasa kalau game ini tidak jauh berbeda dari game action pada umumnya, tapi jika game ini adalah tindakan Techland untuk memperbaiki kekurangan dalam Dead Island, maka saya rasa mereka melakukan hal yang tepat.
PlayStation Store US: Dying Light, $59,99 (Rp 750.000)
































Kamis, 14 Mei 2015

Review God of War: Ascension

Review God of War: Ascension
Review God of War: Ascension - Hi Sobat Blogger Saya Akan Memberikan Artikel tentang Game God of War: Ascension, Langsung Ke TKP aja gan.





God of War: Ascension, kita akan dibawa kembali ke awal untuk melihat secara lengkap latar belakang dari Kratos. Ancesion, seri ketujuh dari game ini, tetap akan menampilkan banyak trik dan darah didalamnya.
Gameplay: Dibuat dengan Santa Monica’s God of War III engine, gameplay terasa masih sama dan nyaman. Setiap serinya tidak terlalu menampilkan banyak keterampilan. Lebih didasarkan pada cerita Kratos, keaslian dari bentuk, dan petualangan pertarungan klasik. Kratos masih dengan senjata terbaiknya, chain-blades. Di God of War: Ascension, mereka dapat ditambahkan kekuatan dewa seperti fire of Ares, lightning of Zeus dan banyak lagi. Tetapi pertarungan tidak akan melebar terlalu jauh dari standard, karena itu bisa mengurangi esensi permainan itu sendiri. Permainan tetap berkutat pada Combo, kecepatan gerakan, menyerang dari jarak aman dan membuat damage sebesar mungkin.

Di Ascension ditambahkan level interaksi seperti event yang menjadi sebuah minigame memotong dan menghindar sebelum Kratos menyerang dan itu menjadi sebuah peningkatan di bagian kenyamanan.
Trik Baru: Seperti biasa, tantangan lain dari God of War: Ascension adalah tekat-teki dimana Kratos harus melakukan beberapa pemecahan teka-teki dari sebuah ruangan. DI sini, Kratos dapat menggunakan peralatan selain senjatanya seperti Roh Sparta yang membawa jimat dengan kekuatan untuk merevitalisasi atau membuat busuk suatu benda mati atau makluk hidup. Fungsi ini dapat digunakan untuk memperbaiki jalan atau mesin, membekukan arsitektur yang runtuh sehingga bisa dilewati.

God of War: Ascension bisa dibilang sebuah game action dimana dapat membuat pemainnya tenggelam ke dalam suasana yang dibangun di game tersebut dengan mudah. Setelah menyelesaikan game, kamu akan langsung ingin kembali ke awal dengan skill yang sudah meningkat dan perlengkapan terbaru. Kamu juga bisa bermain dalam Multiplayer mode. Game ini sudah tersedia di PlayStation 3.





7 Game dengan Visual dan Gameplay Sehebat Film

7 Game dengan Visual dan Gameplay Sehebat Film
7 Game dengan Visual dan Gameplay Sehebat Film - Hello Sobat Blogger Tamsel, saya membuat artikel tentang Game yang Visual dan Gameplaynya sehebat FILM.





Platform game apa yang bisa menyajikan game dengan visual dan pengalaman terbaik? Rasanya, mayoritas gamer akan menjatuhkan pilihannya pada platform PC karena memilikihardware yang bisa di-upgrade semaunya. Namun ada pengecualian untuk game-game di bawah ini. Game tersebut adalah game eksklusif yang hanya ada di konsol dengan visual terbaik. Kamu akan menyesal jika belum memainkannya.


1. God of War Series


God of War menceritakan perjalanan seorang petarung beringas bernama Kratos. God of War pertama kali dirilis untuk PlayStation 2 pada tahun 2005. Sejak pertama kali muncul, God of War selalu menjadi game eksklusif untuk konsol PlayStation dan selalu menggiurkan dari sisi grafis. Seri terakhir dari God of War yakni God of War: Ascension tetap saja tampil memukau.

2. Heavy Rain


Heavy Rain menjadi salah satu pelopor game di PlayStation 3 yang dibuat layaknya sebuah film. Game ini menggunakan orang sungguhan sebagai model yang dijadikan karakter di dalam game. Begitu pun dengan gerakan-gerakan karakter, dibuat berdasarkan gerakan orang sungguhan. Malah, kamu seperti sedang menonton film daripada bermain game.

3. Uncharted Series


Game yang satu ini sudah langganan menjadi GOTY alias game of the year. Uncharted selalu berhasil menyajikan grafis terbaik di setiap serinya. Begitu pun dengan gameplay yang sulit disamai oleh game 3rd-person shooter manapun. Game ini memiliki ciri khas yang selalu menampilkan pemandangan alam yang indah di setiap serinya. Bahkan, Indonesia pernah dua kali masuk ke dalam seri game Uncharted. Oh ya, tak banyak yang tahu kalau pencipta game Uncharted adalah orang yang sama yang menciptakan game Crash Team Racing (CTR).

4. Beyond: Two Souls


Game ini dibuat oleh tim pengembang yang sama yang menciptakan Heavy Rain. Tokoh utama dalam Beyond: Two Souls adalah aktris Hollywood, Ellen Page. Hampir seluruh adegan dalam game ini menggunakan proses shooting layaknya pembuatan film. Karenanya, kamu yang memainkan game ini bakal merasa seperti memainkan sebuah film. Keren!

5. The Order: 1866


The Order: 1866 menjadi salah satu game eksklusif pertama untuk PlayStation 4 yang memiliki visual dan gameplay seperti film. Game ini dikembangkan oleh Santa Monica, studio game yang mengembangkan game God of War. Saking kerennya grafis yang dimilikinya, game ini menjadi salah satu game dengan grafis terbaik di tahun 2015 ini. Bahkan, grafis in-game dalam game ini sama kualitasnya seperti adegan cutscene, kamu tak akan bisa membedakannya.

6. The Last of Us


Kalau pernah memainkan Uncharted, kamu pasti tak akan rela melewatkan The Last of Uskarena dikembangkan oleh tim yang sama. The Last of Us tak hanya menghadirkan grafis yang wah, namun juga dua tokoh utama, yakni seorang pria paruh baya dan seorang gadis kecil yang terpaksa harus berduet melawan makhluk undead yang terinfeksi jamur. Game ini memilikigameplay seru dan menegangkan.

7. inFamous Series


Game yang satu ini sebenarnya tidak sepenuhnya bisa dikategorikan sebagai game dengan gameplay seperti sebuah film. Pasalnya, game ini memiliki tipe permainan open-world dimana kamu bebas mengeksplorasi kota di dalam permainan. Namun yang membuatnya seperti film adalah banyaknya cutscene serta karakter di dalam game yang dibuat berdasarkan orang sungguhan.







Dead or Alive 5: Last Round Dirilis di PC

Dead or Alive 5: Last Round Dirilis di PC - Hello Sobat Blogger, Terima kasih sudah sering mengunjungi tamselgame , langsung aja ke TKP gan





Setelah dirilis di konsol, akhirnya Koei Tecmo merilis Dead or Alive 5: Last Round di PC. Walaupun begitu pada versi PC terdapat dua fitur yang dihilangkan. Fitur yang dihilangkan yaitu tidak adanya Multiplayer Mode dan juga tidak menghadirkan Achievement untuk pengguna Steam Cloud. Tidak hanya itu, pada versi PC juga tidak menghadirkan dua stage yang hadir di konsol yaitu The Danger Zone dan The Crimson.
Untuk multiplayer mode sepertinya akan dihadirkan pada akhir Juni. Pada game Dead or Alive 5: Last Round juga menghadirkan 34 karakter yang bisa dimainkan. 34 karakter tersebut sudah termasuk dua karakter terbaru yaitu Raidou dan Honoka. Selain itu ada sekitar 400 kostum yang bisa kamu dapatkan selama permainan termasuk gaya rambut dan aksesoris.






Dari segi grafis, Dead of Alive 5 mendukung resolusi 4K dan juga fitur Anti-Aliasing. DOA5 sendiri sudah dirilis di konsol sejak bulan Februari.